Jumat, 29 Mei 2026

Asline Gur Ngelih


Kenapa kalo perut lapar hawanya pengin marah-marah? Karena kadar gula dalam darah turun, sehingga transfer oksigen ke otak juga menurun. Alhasil bikin hati kita jadi sumpek & jenuh, sehingga mudah marah & emosian. Intine, nek ono uwong nesa nesu ora jelas, kui tandane urung madang!

''Wis gek madang kono, ga usah maramara, kowe ki asline gur ngelih!'' 😩

#RolasanDulu

 

Selasa, 19 Mei 2026















Pada akhirnya ... umur semakin tua sirkel pertemanan akan semakin mengecil dan teman yang tersisa hanyalah kucing. 🐱🙂


#InilahHidup
#SantaiSaja

Rabu, 13 Mei 2026

Bumi Semakin Panas

Banyaknya pohon ditebangin karena permintaan pasar cukup tinggi. Bisa untuk bahan bangunan, furnitur, peralatan masak, kertas, pensil, korek api, kayu bakar, arang, dll. Sangat sulit untuk dicegah karena udah jadi kebutuhan sehari-hari. Tahun 1976 Rhoma irama bikin lagu judulnya 135 juta penduduk Indonesia, dan sekarang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, jumlah penduduk Indonesia mencapai 287,19 juta jiwa. Populasi penduduknya semakin banyak, naiknya berlipat lipat. Coba bayangin kalo orang sebanyak itu bangun rumah, pasti membutuhkan kayu yang sangat banyak sekali. Coba kalian pikir, kayu yang dijual ditoko Matrial sumbernya dari mana? Jawabnya ya dari penebangan hutan dari mana lagi. Kayu hasil kebun ga akan mencukupi kebutuhan pasar.


Hebatnya kakek nenek leluhur kita dulu, mereka menanam pohon untuk tabungan anak cucu biar nggak kesulitan kalau membangun rumah. Padahal butuh waktu puluhan tahun Pohon bisa tumbuh jadi bahan bangunan. Tapi apa yang terjadi? Generasi penerusnya cuma bisa nebang pohon lalu menjualnya, ga mau menanam kembali.😁

#SalamLestari

Senin, 11 Mei 2026

Fans Fomo

 










Pecinta motogp pasti tau, dulu sebelum kita punya pembalap tangguh kita dukung pembalap Jepang, karena ada wakil dari Asia. Trus ada pembalap dari malaysia Hafizh Syahrin, kita juga dukung dia. Trus datang lagi pembalap Thailand Somkiat chantra, kita juga dukung dia. Pokoknya bangga kalo ada pembalap bisa jadi wakil Asia/Asia Tenggara. Fans fomo malah jelek-jelekin pembalap, saling hujat saling menghina, jelekin fisik dll. Yang dibahas bukan lagi soal balapan, malah jadi melebar kemana-mana. ini pikirannya ke mana coba.

 

#PecintaMotogp


Selasa, 20 Februari 2024

Terjebak Dalam Lingkaran Kebencian

 










Jaman dulu ada yang namanya gila ABRI, orang yang punya cita-cita ingin menjadi ABRI tapi nggak kesampaian. Lalu orang itu merubah gaya tampilan layaknya seorang tentara. Rambut dipotong cepak, pakai baju loreng lengkap dengan aksesoris berikut pangkatnya. Kemudian jalan petentang petenteng, setiap orang lewat dipalak-palakin, kios-kios toko dipajekin, bahkan ada yang berani nilang kendaraan bermotor.

 
''Namanya juga ABRI gadungan. ABCD (Abri Bukan Cepak Doang).''
 
Semakin lama orang-orang dibuat kesal karena ulahnya. Orang yang punya akal pasti mikir, ‘’Masa iya  ABRI kerjanya malak-malakin orang? Dia kan pengayom dan pelindung rakyat!’’. Akhirnya ABRI gadungan itu dilaporkan dan ditangkap oleh petugas, lalu dihukum sesuai dengan kesalahannya.
 
Kalau jaman sekarang ada yang lebih gila lagi, namanya ‘’Gila Politik’’. Saking fanatiknya terkadang omongannya suka ngawur. Omongan bener dicela, omongan salah dicela, orang ngasih nasehat pun dicelanya juga. Pokoknya apapun yang dilakukan lawan politiknya selalu nampak salah di matanya. Apalagi kalau ada orang yang tidak sependapat dengannya, pasti dianggapnya musuh.
 
‘’Nah, kan! Jadi gila beneran!’’  😃
 
Repot kalau sudah terjebak dalam situasi seperti itu. Soalnya nggak sadar kalau dirinya sudah menjadi pendengki, karena selalu menyalahkan oranglain. Kalau perbuatan baik dan buruk hanya menuruti perasaan diri sendiri dan golongannya akibatnya akan jadi seperti itu, jadi pembenci.
 
Kata Simbahku : ‘’Wong Edan sing mlaku turut ndalan kae ora iso nulari koe Lee, jadi nggak usah takut ketularan. Sing iso nulari kui mung penyakit kebencian, molakne ojo melu-melu jadi pembenci.’’
 
Pertanyaannya, kenapa kita bisa seperti itu? Mari kita bahas bersama-sama.
 
Semua itu berawal dari Sosial media. Seperti WA, Facebook, Twitter, Instagram, dll. Yang memudahkan dan memberi kita kebebasan untuk berexspresi dan berpendapat. Kebebasan berpendapat itu seringkali membuat kita salah arah, sehingga terkadang lupa aturan dan etika, alias komentar sak penake dewe. Banyak diantara kita yang tadinya berteman baik kini menjadi musuh, hanya karena perbedaan politik dan status golongan.
 
Sudah tidak aneh, ketika ada suatu kejadian perkara mendadak banyak sekali orang yang menjadi pakar di Media sosial. Seolah-olah dia yang paling tau, paling mengerti, paling benar, lalu menghakimi dan menyalahkan orang yang tidak sependapat dengan dirinya. Sebentar jadi pakar politik, sejam kemudian jadi ahli hukum, ahli strategi, ahli agama, ahli IT, ahli tata kota, ahli kesehatan, ahli ngurusin hidup orang, ahli ngatur rumah tangga orang, dan sebagainya.
 
Ada 1 pepatah,’’Jangankan Manusia, Ikan pun akan terhindar dari masalah, jika ia mampu menjaga mulutnya.’’
 
Keliatan pinter apa nggak? Ya kagaklah! Kan ga semuanya lu ahli dalam segala bidang! 😂
 
Apalagi jika sudah memasuki masa-masa pilkada atau pemilihan presiden. Media sosial menjadi semakin miskin bahasa, cuma punya 2 kosa kata : Membenci atau dipuji, menghujat atau mendukung, iblis atau malaikat. Yang di sana menertawakan yang di sini, yang di sini menertawakan yang di sana. Yang di sana doyan fitnah, yang di sini balas memfitnah. Masing-masing sibuk mencari-cari kesalahan orang yang dia benci. Begitu seterusnya, sampai kebencian itu tertanam dalam diri masing-masing. Dan tanpa disadari, sesungguhnya manusia sedang membinasakan diri sendiri, dan berubah menjadi SETAN!.
 
Ini Politik, molitiki, dan memang seperti inilah politik. Orang yang saat ini kamu benci bisa jadi 5 tahun yang akan datang sekubu denganmu lalu menjadi temanmu. Begitu juga sebaliknya, orang yang saat ini menjadi temanmu bisa menjadi musuhmu.
 
Nah, kalau sudah begitu kita mau ngomong apa? Ya memang seperti itulah Politik. Kalau otak kita nggak cerdas bisa stress sendiri. Maka dari itu biar otak kita nggak stress kudu memperluas wawasan, banyak belajar, banyak membaca buku, agar buah pemikiran kita semakin cerdas dalam berfikir.
 
Mari kita hilangkan sikap egois kita. Nggak perlu kita saling gontok-gontokan, atau saling menghujat, nggak ada ada manfaatnya, justru malah merugikan diri kita sendiri. Karena ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu menjaga pertemanan & kekeluargaan.
 
''Salam Damai Indonesiaku'' 😊 💪
 
- Oleh : Satrio Damar Setiadji
nama pena :
Opini : Coretan Sederhana