Kamis, 05 Maret 2015

Gending Katresnan 4

Semenjak kecil, aku tinggal bersama kakekku di sebuah desa kecil, letaknya di desaTawang harjo, sebelah selatan kabupaten wonogiri. Rumah kakek sangat jauh dari tetangga dan keramaian. Karena saking jauhnya dengan tetangga aku sering bermain sendirian di rumah. Mencari ikan di kali, mencari burung atau terkadang mencari sarang lebah madu di sekitar rumah kakek.

Sepulang dari sekolah biasanya aku langsung membantu kakek bekerja di ladang. Mencari rumput, kayu bakar, ngangon kambing, juga menunggu burung emprit pemakan padi. Sore harinya bermain layang-layang di halaman rumah sambil menikmati potongan tebu.

Karena didikan kakeklah menjadikan aku seorang anak yang rajin dan pemberani. Aku tidak takut menangkap ular berbisa, memburu garangan yang mengejar-ngejar anak ayam, atau pergi ke tengah hutan sendirian. Tapi, aku juga sering kena celaka akibat keberanianku ini, sering ceroboh karena rasa penasaran yang berlebihan.

Suatu ketika, aku di ajak paklek mencari lebah madu di pinggiran kali krakal. Kebetulan di sana ada sarang lebah madu yang lumayan besar, cuma letak sarangnya itu sangat sulit untuk di jangkau tangan manusia, berada tepat di ujung pohon yang telah mati. Pohon itu menjorok ke tengah kali yang lumayan dalam airnya, membuat siapa pun orang enggan untuk memanjatnya.

‘’Berani manjat nggak, lee?’’ ujar paklek mengagetkan lamunanku.

‘’Berani, paklek!’’ jawabku sedikit tertantang.

‘’ Tapi, banyak semutnya?’’ ujar paklek mengingatkan.

‘’Sudah kebal sama semut!’’ jawabku sambil cengengesan.

Kemudian, aku buka kaos lusuh kesayanganku. Kaos bola lusuh bernomor 10 bertuliskan maradona itu pemberian saudara yang datang dari Jakarta. Aku sangat menyukainya, karenanya aku selalu memakainya setiap hari.

Tanpa menunggu-nunggu lama, aku segera memanjat pohon itu dengan sangat hati-hati. Ranting-ranting kecil aku jadikan sebagai pijakan kaki. Semut-semut rangrang yang terusik karena keberadaanku mulai menggigit badanku, tapi aku tidak menghiraukannya.

Sesampainya di puncak pohon tua itu, aku terkejut dan sedikit kecewa. Ternyata lubang lebah madu itu telah kosong dan tidak ada tawon madunya. Aku longok-longok lubang itu, sangat gelap di dalamnya, tapi lagi-lagi tidak ada apa-apa di sana.

‘’Paklek …, Sudah kosong sarangnya?’’ ujarku pada paklek yang berada di bawah.

‘’Masak sih, lee? Kemarin sore masih ada, kok!’’ jawab paklek meyakinkan aku.

‘’Bener …! Tuh lihat! Nggak ada apa-apa di dalamnya!’’ ujarku lagi.

‘’Coba disodok pakai ranting kecil, lee?’’ saran paklek.

Kemudian, aku ambil sebatang ranting kecil yang telah kering . Lalu, aku sodok lubang lebah madu itu dengan kerasnya. Dan, inilah akibat kecerobohanku….

‘’Pakleeekkk ..., Tawonnya keluar semuaaa ...!!’’ aku mulai panik dan sangat ketakutan.

Beribu-ribu tawon lebah madu keluar dari sarangnya. Mengamuk membabi buta, menyerangku, mengantup seluruh badanku. Tiap kali lebah madu itu menyengatku, badanku jadi bergoyang-goyang seperti kalau orang di cubitin sana sini. Kedua tanganku sibuk menghalau lebah yang hinggap di badanku.

‘’Tolooong …!! Tolooong pakleeekk …!!’’ teriakku menahan kesakitan akibat di antup tawon.

‘’Cepaat turun, leee …!!

Aku pun segera turun dari pohon itu sambil menahan sengatan lebah. Sesampainya di bawah aku langsung berlari sekencang-kencangnya, karena lebah-lebah madu itu masih tetap menyerangku dan mengejarku.

‘’Tolooong …!! Tolooong pakleeekk …!!’’

Di bawah pohon kelapa aku berhenti berlari dan terkapar tak berdaya. Nafasku ngos-ngosan, seluruh badanku rasanya sakit semua. Sisa antupan lebah berwarna putih itu tidak ada habisnya di cabutin paklek dari badanku. Mungkin kalau di hitung, ada ratusan lebih lebah madu itu mengantupku.

Lebah madu liar, warnanya hitam bergaris kuning kecoklatan. Biasanya, satu kali antupan bisa membuat badan jadi bengkak. Bisa di bayangkan, bagaimana rasanya kalau di antup ratusan lebah.

Akibat dari kejadian itu, semalaman suntuk aku tidak bisa tidur. Badanku jadi panas dingin seperti orang sakit meriang. Oleh kakek aku hanya di kasih minum air kelapa hijau. Dan, Alhamdulilah, esok paginya aku sudah segar bugar kembali, Cuma bedanya badanku masih terasa sedikit kaku.

Kejadian tragis itu tidak lantas membuatku kapok. Justru inilah awal dari kecerobohanku yang bertubi-tubi.

Sebulan kemudian, saat usai kenaikan kelas 5. Aku dan teman-teman di tugaskan piket membersihkan sekolah dan lingkungan sekolah. Tugasku membersihkan sampah di atas plafon ruang kelas bersama guru olahraga, pak syahrin namanya. Satu per satu sampah-sampah daun kering di atas plafon itu aku turun kan memakai ember, lalu temanku yang berada di bawah membuangnya ke tempat sampah.

Setelah pekerjaanku selesai, pak guru olahraga memanggilku.

‘’Satrio! Bawa embermu ke sini? Temani bapak naik ke atas plafon guru!’’

‘’Njeh, Pak.’’

Kemudian, aku bersama Pak guru naik ke atas plafon itu. Sesampainya di atas plafon, ternyata pak guru mau mengambil lebah madu. Lebah madu itu tepat berada di lubang angin, bentuknya memanjang dan banyak sekali lebah madunya. Pak guru mengambil tala madu itu, lalu menaruhnya di ember yang aku pegang. Setelah ember itu penuh tala madu, pak guru pun segera mengajakku untuk turun.

Setelah sampai di bawah, rasa penasaranku kembali muncul. Aku juga ingin seperti pak guru, mengambil madu dari atas plafon itu. Keinginan hatiku sangat kuat, karena melihat tala madu yang demikian banyaknya. Kemudian, dengan mengendap-endap, aku mengambil kantong kresek hitam dari dapur sekolahan lalu naik lagi ke atas plafon itu.

Sesampainya di sana di atas plafon itu, aku segera mendekati sarang lebah madu itu. Hatiku rasanya deg-degkan tidak karuan, antara takut, berani dan juga rasa penasaran yang sangat tinggi. Perlahan-lahan aku tarik tala madu itu, tapi tidak juga mau terlepas. Semakin kuat aku menariknya, tapi tetap saja tala lebah madu itu tidak mau terlepas. Tiba-tiba, saat aku ingin menariknya kembali, satu ekor lebah madu menyerangku. Seketika aku panik dan berusaha lari menghindar, tanpa sadar kalau aku sedang berada di atas plafon guru. Dan ….

‘’Aaaaa ...!!’’

‘’Gubraaakkk ….

Atap plafon eternit itu amblas terinjak kakiku dan aku jatuh njeblos ke bawah. Untungnya tangan kananku sempat meraih kayu plafon sehingga aku tidak sampai jatuh ke lantai.

‘’Tolong saya Pak Guru!’’ teriakku masih dalam keadaan gelantungan seperti tarzan.

Aku panik, antara takut terjatuh juga takut dimarahi oleh pak guru. Beberapa saat kemudian Bapak guru dan teman-temanku yang lain menolongku.

Sekujur tubuhku babak belur, mulai dari kepala, tangan, sampai kakiku lecet-lecet semua. Pak Guru Olahraga dengan sabar mengobati lukaku sambil menasehatiku.

‘’Arep ngopo kowe munggah meneh?’’ tanya Pak Guru.

Aku menjawab dengan sedikit gemetaran karena takut dimarahi.

‘’Ajeng ngunduh tala madu, Pak.’’

‘’Arep mbok nggo opo?’’ tanyanya lagi.

‘’Niate madune ajeng didum kaleh rencang-rencang.’’ jawabku sambil mesam-mesem.

‘’Ngambil tala madu iku kudu nganggo iki.’’ ujar Pak Guru sambil tangannya nunjuk ke kepalaku.

‘’Njeh Pak Guru.’’ jawabku manggut-manggut.

‘’Nanti kapan-kapan Bapak ajari, ya? Sekarang kamu pulang saja, biar diantar temn-temanmu.’’ lanjut Pak Guru.

Sesampainya di rumah aku dimarahin kakek, beliau menasehatiku habis-habisan.

‘’Thole, sebagai murid yang baik, kamu tidak boleh berlaku nekat seperti itu. Kudu nganggo toto kromo. Kalo tidak disuruh jangan ngambil sendiri yang bukan hakmu, itu namanya ora ilok!’’

Aku diam saja tidak berani bersuara, hanya bisa mengangguk pasrah, sambil meringis-ringis menahan sakit.

Siang itu kakek tidak jadi pergi ke ladang, dengan penuh kasih sayang beliau membuatkan ramuan obat untukku. Aku semakin sadar, aku memang salah, telah mengecewakan orang-orang yang menyayangiku.

‘’Cucumu yang nakal ini minta maaf ya, kek.’’ ujarku dalam hati menyesali diri.

Sore harinya, kakek terlihat sibuk di samping rumah. Tapi, aku belum bisa membantu beliau karena badanku masih terasa sakit. Tidak berapa lama kemudian, ada asap putih mengepul dari samping rumah. Dari bau asap itu aku tau, pasti itu asap dari kembang koler (kembang kluwih/nangka jawa).

Saat aku mendekat, aku melihat kakek meniup-niup asap itu ke a rah lubang gelodokan tawon madu. Semakin banyak asap yang keluar, semakin banyak pula tawon-tawon yang keluar dari sarangnya. Setelah tawonnya berkurang, satu-persatu tala madu itu diambil kemudian di taruh di atas tampah (tempat dari anyaman bambu).

Kakek memang memelihara tawon madu, ada dua gelodokan, semuanya terbuat dari batang kelapa yang dilubangin tengahnya. Tapi, lebah madu itu jarang sekali di unduh, kalau ada orang yang meminta baru kakek mengambilnya.

‘’Thole! Ambilin botol bekas sirup di atas meja.’’ ujar kakek sambil membersihkan sisa-sisa tawon yang masih melekat di tala madu.

‘’Iya, Kek.’’

Kemudian, satu-persatu tala madu itu diperas menggunakan kaos bekas, lalu di masukkan ke dalam botol sirup. Setelah selesai, madu yang sudah tertuang di dalam botol itu diberikan kepadaku.

‘’Nih, buat kamu semua. kalau kamu pengin opo-opo bilang sama kakek. Jangan berbuat seperti itu lagi.’’ ujar kakek.

‘’Nggeh, kek.’’

Aku ambil botol madu itu dengan perasaan senang sekali, isinya hampir sebotol penuh, warnanya bening kecoklatan, kental sekali.

‘’Coba kamu rasain manis nggak, lee?!’’ ujar kakek lagi sambil tersenyum.

Perlahan-lahan aku buka tutup botol sirup itu, lalu aku celupin jari telunjukku kemudian aku jilat.

‘’Hnggg … Manis banget, kek! Manis banget!’’ ujarku kegirangan.

Semenjak itu, setiap mau tidur atau berangkat sekolah aku selalu minum dua sendok madu tawon. Terkadang aku campur dengan singkong rebus, sungguh rasanya enak sekali.

( bersambung )
- Oleh : Satrio ‘si jragan kodhok’

Kebenaran itu dari Tuhanmu









Alloh swt berfirman, ''Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka keputusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah, Tuhan-ku. Kepada-Nya-lah aku bertawakal dan kepada-Nya-lah aku kembali.

(QS asy syura : 10 )

Namanya berselisih itu biasanya mencari kebenaran. Dua orang yang berselisih masing-masing mesti merasa dirinya yang paling benar. Si A dan B berselisih tentang sesuatu, masing-masing berebut kebenaran. Sedangkan kebenaran itu mutlak milik Alloh, ‘Al haqu mirobikum kebenaran itu dari Tuhanmu.

Maka dari itu apabila umat muslim terjadi perselisihan ‘’farudu illalloh wa rosulli kembalikan kepada Alloh dan Rosul. Kalau berselisih yang dicari suatu kebenaran, jangan mengatakan’ aku yang benar, aku yang benar’, kalau masing-masing kembali kepada akunya pasti tidak akan ketemu. Kalau sudah kembali kepada Alloh, masing-masing tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Apa pun yang menjadi keputusan Alloh harus ‘Sami’na wa to’na kami dengar dan kami taati, dan tidak ada keberatan sedikitpun.


 Itulah pedoman singkat kita sebagai orang mukmin, agar tidak terjadi perselisihan dan permusuhan yang berkepanjangan.

- Salam santun saya

Senin, 02 Maret 2015

Kutukan Kotak Make Up

‘’Mas, toilet di mana, ya?’’tanya seorang wanita, raut mukanya nampak seperti sedang menahan sesuatu.

‘’Mau tau aja ato mau tau banget?!’’ jawabku.

‘’Buruan, Mas! Saya udah nggak tahan!’’ lanjutnya sambil meringis-ringis.

‘’Tadi Mbak nanya apaan, cih?! kurang jelas suaranya.’’ jawabku pura-pura nggak denger, padahal dalam hati udah pengen ngakak cekikikan.

‘’Toilet, Mas …!! Toileet … buruaan … di mana …!!’’ tanyanya lagi, kali ini gerakan badannya semakin terlihat aneh.

‘’Ouw … toileeet …!!’’ jawabku sambil garuk-garuk rambutku yang kribo, pura-pura mikir.

‘’Di mana, Maaass …?!!’’ tanya wanita itu semakin tidak sabaran.

‘’Tuh, di pojok sebelah kiri!’’ jawabku cuek, sambil nunjuk ke arah toilet yang aku maksudkan.

Setengah berlari wanita itu menuju ke arah toilet yang aku bilang tadi. Beberapa saat kemudian dia sudah keluar lagi, mukanya nampak berbinar.

‘’Mbak?’’ tanyaku sambil mencet hidung.

‘’Iya, Mas. Ada apa?’’ jawabnya, dia heran melihat ulahku.

‘’Belum cebok, ya? Itu kan toilet rusak!’’ tanyaku lagi dengan suara bindeng, soalnya masih mencet hidung.

Wanita itu diam saja, raut mukanya nampak memerah, matanya melotot tajam menatapku. Tiba-tiba …

‘’Plaaak …

Aku kaget setengah mati, tanpa aku duga wanita itu menampar pipiku. Setelah itu dia berlalu pergi tanpa memperdulikan aku yang sedang meringin-ringis menahan sakit. Sebenarnya tamparannya tidak terlalu keras, tapi untuk menutupi rasa maluku aku pura-pura kesakitan.

‘’Huft  … untung nggak ada yang ngliat!’’ ujarku dalam hati sambil menghela nafas panjang.

Saat aku raba pipi bekas tamparan tadi, hidungku mencium bau sesuatu yang aneh.

‘’Kayak bau jamban? Bau apaan, nih?!’’

Seperti biasa, sepulang dari kerja biasanya aku dan teman-temanku menurunkan barang di lantai bawah, di tempat parkir ini. Tapi kali ini aku bekerja sendirian, soalnya teman-temanku ke luar kota semua.

Properti Shooting satu mobil box penuh itu aku turunkan satu persatu, kemudian aku bawa ke gudang di lantai 4. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya jika pekerjaan itu dikerjakan seorang diri.

Baru saja aku mau naik ke tangga lantai pertama, di tengah tangga aku lihat ada orang berjalan sambil menjinjing koper kecil. Bukannya ngasih jalan dia malah cuek aja, hanya menoleh sesaat lalu berjalan lagi tanpa memperdulikan aku yang kepayahan karena membawa beban berat.

Jalannya pelan sekali, sepertinya dia memang sengaja menghambat jalanku. Pinggulnya nampak bergoyang lendat lendut ke kanan dan ke kiri.

‘’Huft!’’ gerutuku dalam hati.

Namanya Iren ridya, make up artis yang biasa dipanggil kantorku untuk merias artis. Laki-laki setengah perempuan itu sudah 4 x dipanggil kantorku untuk membantu pekerjaan kantor. Karena riasannya sesuai apa yang diharapkan, si bos memanggilnya kembali.

Biasanya kalau di lapangan teman-temanku sering ngeledekin dia, meniru gayanya. Kemudian kami tertawa cekikikan tanpa merasa berdosa sedikitpun. Tapi, kali ini sepertinya aku yang kena batunya. Padahal selama nggodain dia aku cuma ikut-ikutan doang, nggak sampai kelewatan.

‘’Huft …!’’

Aku menghela nafas panjang, barang bawa’anku terasa semakin berat. Tanganku gemetaran, nafasku semakin ngos-ngosan, keringatku pun semakin deras bercucuran. Rasanya ingin sekali aku berhenti, tapi barang bawa’anku ini sensitive dan tidak boleh ditaruh disembarang tempat.

‘’Sial bener nasipku!’’ gerutuku dalam hati.

Rasanya jengkel sekaligus menggelikan. Gimana nggak menggelikan, di belakangnya ada orang yang bawa barang berat, di depannya ada cewek jadi-jadian yang nggak mau ngasih jalan.

‘’Hehe …

 Akhirnya dengan nafas ngos-ngosan sampai juga di lantai 4. Aku lihat dia berjalan lenggak lenggok, kemudian menaruh kotak make up yang dia bawa di atas meja. Kotak make up kecil itu dia taruh pelan sekali, sambil bilang.

‘’Aduuuh … ciiin … capek bangeet … yah …!’’

 Aku pun nggak mau kalah, dengan perasaan jengkel aku taruh barang bawa’anku satu-persatu ngikutin gayanya yang lemah gemulai. Setiap barang yang aku taruh, bibirku aku monyong-monyongin.

‘’Aduuuh …. Aku capek juga, niiih …!! Em … em .. em …!!’’

Ternyata dia nggak suka melihat ulahku, raut mukanya terlihat kesal. Tatapan matanya terlihat aneh, sepertinya ada sesuatu yang dia rencanakan. Saat aku tegur dia diam saja, pura-pura nggak dengar, padahal aku ngerasa ngeri juga kalau dia marah beneran.

Dan memang benar, inilah awal dari kesialanku yang bertubi-tubi. Mau tak mau aku harus terima nasip sialku, kalau nggak, aku bisa kena kutukan sial seumur hidupku.

“Hehe …

Pagi itu sebelum berangkat ke lokasi shooting si bos memanggilku untuk ikut metting sebentar.

‘’Mas, nanti bilangin anak-anak! Property klien jangan sampai kelupaan di bawa. Kayaknya orangnya rada ribet!’’ ujar si bos memberitahuku.

‘’Siap, Pak!’’ jawabku singkat.

Saat sedang metting bersama teman-teman yang lain, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang wanita. Wanita itu memakai kemeja lengan pendek dibalut rok panjang berwarna coklat tua, rambutnya hitam panjang sebahu. Cantik sekali, pikirku. Tapi, saat aku melihat wajahnya aku kaget.

‘’Piasss …!!’’ jantungku serasa mau copot.

Ternyata wanita itu wanita yang aku kerjain di tempat parkiran kemarin sore. Tidak salah lagi memang dialah orangnya, aku belum lupa, ada tahi lalat di pipinya.

‘’Selamat pagi teman-teman semuanya! Maaf, kelamaan nunggu, ya? Macet banget jalannya!’’ sapanya ramah.

Aku cuma bisa menunduk diam saat dia menatapku tajam, sepertinya dia juga mulai mengenaliku. Cuma sedikit yang dia bicarakan tentang produck perusahaannya, selebihnya dia berbicara tentang adab kesopanan.

Mati kutu, bener-bener mati kutu aku dibuatnya. Si bosku sampai terheran-heran, kenapa sikap kliennya jadi berubah seperti itu. Semua yang berada di ruangan itu nampak serius mendengarkan dia berbicara. Aku sendiri merasa seperti berada di ruang sidang, dan sudah dapat dipastikan akulah tersangka utamanya.  Tapi, hatiku sedikit lega, ternyata dia tidak langsung mendampratku.

Jam 8 : 30
Aku berangkat duluan ke lokasi shooting, membawa tumpukan property juga peralatan set artku. Sesampainya di sana lokasinya masih sepi, hanya ada aku dan beberapa teman-temanku yang ikut membantuku,  juga tukang make up artis.

Satu-persatu barang-barang yang berada di atas mobil box itu aku turunkan. Kemudian aku bawa masuk ke dalam rumah studio yang menjadi set pertama pagi ini.

Saat aku melangkah masuk ke dalam rumah, dari kejauhan aku lihat Iren, lelaki setengah wanita itu berjalan ke arahku dengan langkah gemulai. Saat itu aku kerepotan membawa barang berat, di tangan kanan  bawa monitor camera, di tangan kiri bawa kabel-kabel segede gaban. Begitu dekat, tanpa ba-bi-bu lagi wanita jadi-jadian  itu meremas barang milikku yang paling berharga dengan sekuat tenaga.

‘’Aaawww …!! Aduuuh …!!’’

‘’Rasain … luu …!!’’ seringainya kejam.

Spontan aku turunkan barang bawa’anku, kemudian mendampratnya habis-habisan. Aku ngamuk-ngamuk, ngedumel tiada henti, sambil meringis-ringis menahan sakit.

‘’Sial … sial … apes benar nasip gue hari ini!!’’

Setelah kejadian itu, rasanya seperti bekerja di  dunia lain saja. Rasanya kesal sekali, sungguh baru kali ini aku perlakukan dan dilecehkan seperti itu. Ingin rasanya menghajar orang itu, tapi aku berusaha bersikap professional, karena tidak mau mengecewakan si bos.

Setiap kali berpapasan dengannya jalanku minggir-minggir seperti orang ketakutan. Dan, setiap kali beradu pandang dengannya dia selalu ngedipin mata genitnya.

‘’Tiiing …

‘’Piaaasss … Asem banget rasanya … mimpi apa gue semalem!! Anjriiit … anjriiittt … dodol … dodooolll …!!’’ gerutuku dalam hati.

Akhirnya tugasku hari itu selesai, aku merasa pekerjaanku kali terasa sangat berat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dan resikonya menjadi anak set art, aku berangkat duluan ke lokasi pulangnya pun paling akhir.

Dua jam kemudian, barang-barang itu sudah aku muat kembali ke dalam mobil box. Saat mau pulang mendadak perutku mules, melilit-lilit berasa ingin boker, buru-buru aku berlari menuju ke toilet studio yang berada jauh di belakang.

‘’Huft! Makan apa gue tadi. Perasaan cuma makan nasi kotak?! Apa gara-gara kemaren sore makan tongseng?!’’ gerutuku dalam hati sambil ngelus-elus perutku.

Tapi, saat aku mau buka pintu aku sedikit kaget, pintu kamar mandi itu seperti terkunci dari luar. Aku tarik lebih keras tapi pintu kamar mandi itu tidak bergerak sedikitpun. Tanpa menunggu lama aku gedor-gedor pintu itu, berharap ada orang yang mau membukanya.

‘’Dor .. dor .. dor …

‘’Ada orang nggak di luar!! Minta tolong, dong!!’’ teriakku mulai panik.

Berulangkali aku gedor pintu itu sambil teriak-teriak minta tolong tapi nggak ada jawaban sama sekali.

Tiba-tiba dari arah bawah pintu ada orang nyelipin selembar kertas putih. Buru-buru aku mengambilnya kemudian aku baca.
-------
Aku sih mau aja bukain pintu
Tapi ada syaratnya, cint!
Syaratnya kamuh harus mau jadi pacar aquh.

Ttd : Iren
----------
Spontan aku ngamuk-ngamuk, nyerocos terus sambil ndobrak-dobrak pintu kamar mandi itu.

‘’Eh! Kolor betmen …!! Lu bukain nggak pintunya. Elu sengaja ya ngonci pintunya!! Awas lu, ya!!’’ dampratku semakin naik pitam.

Saat aku mau dobrak pintu itu lagi, tiba-tiba perutku mulas lagi, kali ini rasanya lebih melilit dari yang pertama. Buru-buru aku kembali duduk di closet duduk itu, tanpa perduliin pintu yang belum bisa aku buka.

‘’Egghh … aduh … sakitnya banget … perutku …!!’’ ujarku sambil meringis-ringis memegang perut.

‘’Mas, bro!!’’ suara Iren mengagetkan aku.

‘’Iya, kenapa?’’ jawabku dengan suara seperti menahan sakit.

‘’Gimana syaratnya?’’ tanyanya lagi.

‘’Syarat apaan?!’’ jawabku dengan suara yang sama.

‘’Jadi pacarkuh!’’ lanjutnya.

‘’Elu gila kali, yeh!! Kagak kagak …!! Yang kagak kagak aja jadi orang!!’’ jawabku dengan nada tinggi, tapi suaranya masih sama seperti suara orang boker.

‘’Hehe … akuh cuma becanda ko’ Mas bro!! Lagian mana ada orang mau sama gueh!’’ ujar dia.

‘’Lha, itu elu tau!! Jangan menyalai kodrat, lah!! Meski susah elu harus belajar menjadi lelaki normal kembali!!’’ jawabku sedikit kalem.

‘’Duuuutttt … prepet …prepet … pet …

‘’Tapi, janji, yah?’’ tanyanya lagi.

‘’Janji apaan?!’’ jawabku dengan suara seperti menahan sesuatu.

‘’Akuh sebenarnya nggak suka tiap kerja diledekin mulu. Temen-temen Mas bro itu kelewatan semuah!! Akuh juga punya perasaan tau, nggak!! ’’ ujarnya lagi.

‘’Iya …iy … iya..!! gue janji!!’’ jawabku.

‘’Iya sudah, makasih Mas bro!! Aku pulang, ya? Kuncinya udah aku buka. Maaf kalo selama ini aku punya salah!!’’ ujarnya kemudian berlalu dari tempat itu.

- Oleh ; Satrio ‘si juragan kodhok’

Kamis, 26 Februari 2015

KAWAKAMI GENSAI: THE REAL-LIFE HITOKIRI BATTOUSAI

Kawakami Gensai (河上 彦斎, 25 December 1834 – 13 January 1872) was a Japanese samurai of the late Edo period. A highly skilled swordsman, he was one of the four most notable assassins of the Bakumatsu period (the other three were Kirino Toshiaki,also known as Nakamura Hanjirō; Tanaka Shinbei, and Okada Izō). Gensai's high-speed sword discipline (in which he was the only practitioner) was called the Shiranui-ryū.

Kawakami Gensai was born in Kumamoto in 1834, to Komori Sadasuke, a retainer of the daimyo of the Kumamoto Domain. Because Gensai's older brother Hanzaemon was chosen as the family's heir, at age 11 he was given in adoption to Kawakami Genbei (河上彦兵衛), another Kumamoto retainer. He then entered the domain's school, the Jishūkan (時習館), and followed its academic and martial courses of study. Given his later prowess, it is rather curious to note that during his martial training he apparently did not win many bouts. With regards to this he is said to have commented "Kenjutsu (swordsmanship) with bamboo shinai is nothing more than play." At age 16 he was called to serve in the Kumamoto castle town as a menial in charge of cleaning (Osōji-bōzu お掃除坊主). Despite the fact that this was a low-level position, Gensai devoted himself wholeheartedly to it, using his free time to polish his martial and literary skills, as well as learn sadō (tea ceremony) and ikebana (flower arrangement). It was at this time that he met two men who would later be important in the activities of the ishin shishi: Todoroki Buhei and Miyabe Teizō. Thanks to his discussions with them, he took a serious interest in the concept of kinnō (勤王), or imperial loyalty.

In 1851, he joined the Kumamoto lord Hosokawa Narimori and went to Edo for his lord's sankin kōtai rotation. It was during his service to the lord in Edo that Commodore Perry arrived in 1853. As the shogunate subsequently entered into a series of increasingly unfair unequal treaties, Gensai left Edo in anger and returned to Kumamoto, where he entered the Gendōkan academy of the kinnō scholar Hayashi Ōen. After a thorough schooling in Ōen's kinnō philosophy, Gensai returned to Edo.

Gensai was present at the Kumamoto residence in Edo during the Ansei Purge. In the aftermath of Ii Naosuke's assassination, when a group of the escaping assassins suddenly entered the residence, it was Gensai who calmed down the subsequent uproar, calling for a doctor and having a private tea ceremony for the men. It was during this ceremony that he told the men of his admiration for them.

In 1861, Gensai married Misawa Teiko, the daughter of another Kumamoto retainer. A martial artist herself, she was highly skilled in the use of the naginata. The couple would have a son, Gentarō, who survived even after Gensai's execution, thanks to Teiko's efforts.

In 1862, he joined Kumamoto forces who were posted to security duty in Kyoto. It was at this point, he quit his job as bōzu, and soon after, left Kumamoto service altogether. In 1864, he lost his mentor Miyabe Teizō to a Shinsengumi raid at Ikedaya. Soon after, Gensai carried out his most famous and only confirmed assassination: that of Sakuma Shōzan. He killed Shōzan in one stroke, in broad daylight. While other assassinations have been attributed to him, only his murder of Shōzan can be proven.

After this, he withdrew to Chōshū and took part in the military actions of Takasugi Shinsaku's Kiheitai against the shogunate's Choshu Expeditions. However, during action in Kokura, he surrendered to Kumamoto forces, and was imprisoned until just after the Meiji Restoration.

In the aftermath of the Meiji Restoration, Gensai was released from prison. He changed his name to Takada Genbei, and served as a military official and teacher for the Kumamoto domain. However, because of his harboring of some Kiheitai stragglers under his old comrade Oraku Gentarō, he was again put in prison, and was executed in 1872.

The character Himura Kenshin from the manga Rurouni Kenshin, as well as Kawakami Bansai from the manga Gin Tama, is based on Gensai.


- Batosai

Jumat, 09 Januari 2015

Pojok Renungan

Teh yang sudah dingin jangan di minum lagi, jika diminum lagi wanginya sudah beda.

Orang yang ingin pergi jangan dipaksa tinggal, jika tinggal dia juga tidak memiliki perasaan lagi.

Cinta yang telah hilang jangan dikenang, jika dikenang dia juga tak akan kembali.

Yang jauh selalu dirindukan, yang dekat menjadi tawar... ketika memiliki, hargailah... ketika pergi, berikanlah doamu yang paling indah.

Di perjalanan hidup ini, tak ada seorangpun yang bertanggung jawab untuk menemanimu sampai akhir hayat.

- salam bijak sore
█│║▌║││█║▌│║▌║©
0 0 0 0 0 8 0 1 2 0 1 5

Recharge your spirit

Ketika kamu merasakan lelah, bersenandunglah bersama udara sore yang hangat;

ketika kamu merasa galau, tenangkan hatimu, ciumlah harumnya bunga dan rumput di taman bunga.

ketika kamu merasa bingung, tarik nafas yang dalam, senyumlah kepada dirimu.

Hidup ini adalah sebuah proses perjuangan dan realisasi, dan jangan lupa setiap saat kita sedang menjalani proses kehilangan.

kehilangan umur, kehilangan harta, kehilangan kesempatan... maka hargailah apa yang kamu miliki sekarang.

- salam bijak sore
█│║▌║││█║▌│║▌║©
0 0 0 0 0 8 0 1 2 0 1 5

Jumat, 02 Januari 2015

Resolusi Cinta di Tahun Baru 2015

Banyak banget yang bikin resolusi Tahun baru. Pengen punya hape baru, baju baru, rumah baru, mobil baru, pacar baru, istri baru, suami baru, pokoknya serba baru.

Beda sekali sama jomblo, Tahun baru resolusinya masih sama dengan Tahun lalu.  Berdo’a, dan tetap berdo’a,

‘’Ya Tuhan, do’aku kali nggak muluk-muluk. Hamba minta jodoh yang baik, setia, dan yang penting dia masih bisa bernafas, itu aja.’’

Habis baca do’a trus nangis di pojokan kasur, meratapi nasipnya yang nggak berubah-berubah. Tahun Baru bukannya senang-senang, malah mewek sendirian.

''Hiks, ini nggak, adil! Sampai kapan aku, begini?’’

Banyak sekali orang bilang, jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi. Tapi sungguh, kali ini aku benar-benar menyesal atas hidupku saat ini.

‘’Maafkan aku Tuhan ... bukanya aku tidak mau mensyukuri atas apa yang telah engkau berikan. Tapi kali ini aku merasa hilang dan benar-benar tersesat terlalu jauh. Ampuni hamba Ya Tuhan … hamba sudah tak kuat lagi menanggung semua ini.’’

Umurku semakin tua, rambut mulai ubanan, gigi mulai ompong, badan kurus kering, dan kulitku pun mulai terlihat keriput, kisut.

‘’Hiks, emaaak …!!’’

Gara-gara terlalu mikirin jodoh badanku jadi kurus, nggak enak makan, juga nggak enak tidur. Kolorku yang tadinya muat, sekarang jadi kondor semua, nggak bisa aku pakai. Terpaksa aku ambil jalan pintas, itu kolor aku jait sendiri, di kecilin maksudnya, sisanya aku jadiin sarung bantal. Lumayan, kan! Namanya juga anak kereatip.

 Tahun baru, pengennya sih jalan-jalan, tapi nggak punya duit. Tabungan habis, dompet ngapret, celengan semarku juga udah habis di gondol sama si petruk, pokoknya lengkap penderitaanku.

‘’Huft!’’

Duit di kantong tinggal marebumaratus, cuma cukup buat beli kopi sama kacang sukro. Kopinya di sruput, kacang sukronya di emut ajah sampai pagi, biar awet maksudnya.

‘’Hiks!’’

Kalau lagi sedih begini jadi males mau ngapa-ngapain, pikiran jadi kacau, nggak bisa mikir, bisanya cuma ngeluh mulu sambil ngedumel dalam hati.

‘’Punya pacar di ambil orang! Baru asik-asiknya pedekate ke tikung lagi sama Teman! Hiks …!’’

Sedih sekali, ternyata kayak begini rasanya patah hati. Rasanya pengen naik tower yang tinggiii .. sekali, biar kayak orang yang di tipi-tipi. Trus, teriak-teriak pake toak minta keadilan.

‘’Hiks, Markonahku, sayang ...!! kenapa dikau tega putusin, Abang? Abang nggak sanggup Markonaah ...!! Abang nggak sanggup hidup tanpamuh …!! Lebih baik abang pergi Markonah! Nanti kalau abang sudah nggak ada, tolong kasih makan burung emprit Abang, ya?’’

Tidak jarang juga di jaman sekarang orang mau gantungin dirinya di bawah pohon kangkung, minum racun semut, nabrakin diri ke bus yang lagi nge-time, atau nyemplungin diri di sumur yang sudah di uruk. Maksudnya sih biar cepet game nyawanya.

‘’Waduh,! Kok, jadi serem ngebayanginya. Tapi, kenapa bisa begitu, ya?’’

Selalu ingatlah sobat,

“Cinta sejati itu selalu menemukan jalan, ada saja yang kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita. Khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Percayalah, jika berjodoh Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan terbaiknya.'' (tere)

Segala sesuatu yang akan kita hadapi itu sudah dituliskan oleh sang maha kuasa untuk menguji iman kita, sanggup tidak kita melewati semua ujianya. Begitu juga soal jodoh, pasti semua ada jatahnya masing-masing dan tugas kita sebagai manusia hanyalah berdoa dan taat beribadah kepada yang maha kuasa sambil ikhtiar dan berusaha.

Rencanamu memang indah, tapi rencana Alloh insya Alloh pasti lebih indah dan selalu berakhir dengan kebaikan. Dan jika yang kamu dapatkan belum baik, maka itu bukanlah akhir, yang terpenting kita selalu berjalan di jalan Alloh, jalan yang di ridhaiNya.

‘’So ...  jangan pernah takut kehabisan jodoh. Selalu yakinlah kepada yang di atas segalaNya “Alloh swt. Jika Alloh swt menghendaki tak akan ada yang mampu menolaknya. Pasrahkanlah segala harapan pada suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

- Oleh : ''Satrio si juragan kodhok''