Terkadang di saat kita mau menjalankan Ibadah rasanya berat sekali. Malas, mengantuk, bosan, kemudian menunda-nunda waktu Ibadah kita. Padahal Waktu sholat itu nggak sampai berjam-jam. Berbeda sekali klo kita sedang hura-hura. Main game, pacaran, online, dan lain sebagainya, kita betah sekali melakukan itu semua, bahkan sampai lupa waktu.
Begitukah cara kita berterima kasih kepada Alloh? Padahal nafas yang kita hela ini yang ngasih Alloh, diberhentiin sebentar saja game nyawa kita.
‘’Sobat muslim yang terhormat yang dirahmati Alloh swt.’’
Rasanya kecil sekali iman kita bila kita membaca kisah bilal bin rabah, seorang budak kulit hitam yang berjuang demi mempertahankan aqidahnya. Karena masuk Islam beliau disiksa oleh orang-orang musyrik kaum quraisy. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran, ujian yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa) … Allohu Akbar … Allohu Akbar …” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad…. Allohu Akbar … Allohu Akbar …”
Ditindih batu besar yang sangat panas beliau tetap bersikeras mempertahankan Aqidahnya. Berbeda sekali dengan kita! Ditindih selimut yang beratnya nggak sampai 2 kilo kita nggak mau beranjak sedikitpun dari tempat tidur.
Rosululloh sar bersabda, ‘’Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan & syaitan mengikatkannya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dgn nyenyak. Jika dia bangun & mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu' maka lepaslah tali yg lainnya & bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan & pada pagi harinya ia akan merasakan semangat & kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tak segar & menjadi malas beraktifitas. [(HR Bukhari :1074)
‘’Ash-Shalatu khairum minan naum ... Ash-Shalatu khairum minan naum ... Sholat itu lebih baik daripada tidur.’’
Mendengar suara adzan subuh dikumandangkan bukannya langsung bangun mengambil air wudhu, tapi malah membetulkan kembali selimutnya.
‘’Astagfirullahaladzim … Hamba mohon ampun kepadamu Ya Allah …"
Inikah yang disebut taat? Inikah yang disebut hamba yang beriman? Bukankah setiap hari do’a kita selalu ingin hidup bahagia dunia dan akhirat. Ingin rejeki yang melimpah, ingin hidup bahagia, dan ingin membahagiakan orangtua dan keluarga kita.
‘’Ya Alloh berikan hamba petunjuk …’’
Berdo'a seperti itu setiap hari tidak akan merubah keadaan. Dikasih petunjuk yang benar malah ditinggal atau malah diabaikan. Semuanya memang terserah kepada Tuhan, tapi Tuhan mendahulukan jawaban bagi permintaan jiwa yang berusaha dengan sungguh-sungguh. Keraguan menjadi penghambat doamu terjawab. Bagaimana Alloh mau mendengar do’a kita lha wong ibadah saja males-malesan atau tidak sama sekali.
‘’Sobat muslim yang terhormat yang dirahmati Alloh swt.’’
Dalam menjalankan ketaatan terdapat sesuatu yang berat atas jiwa dan fisik kita. Karenanya, dalam menjalankannya kita membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Alloh swt berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Al-Zumar: 10)
Rasanya memang berat sekali saat kita ingin memulai menjalankan ketaatan dalam beribadah. Ada saja rasa kemalasan yang membelenggu diri kita. Kemudian, kita hanya berdiam diri menunggu hidayah yang entah datangnya kapan. Bukankah lebih baik kita menjemput hidayah! Dengan cara memulai melakukan ibadah setahap demi setahap. Insya Alloh kalau kita rutin melakukan ibadah kita akan menjadi terbiasa. Ibadah Shalat itu penting dan sangat besar pahalanya. Menjadi benteng hidup kita, agar kita tidak sampai terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar. ''Wallohu alam bishawab''
- Salam santun saya
Kamis, 27 Agustus 2015
Pojok Renungan.
Orang yang beriman tidak perlu takut dan khawatir dengan celaan-celaan dari orang-orang yang suka mencela.
Walaupun dicela orang, dicaci maki orang, kalau Alloh mencintai kita apa artinya itu semua. Begitu juga sebaliknya, walaupun dipuji disanjung oleh manusia kalau dibenci Alloh apa artinya. Manusia tidak bisa menolong apapun kalau Alloh menghendaki sesuatu kepada kita.
#intropeksi_diri
Walaupun dicela orang, dicaci maki orang, kalau Alloh mencintai kita apa artinya itu semua. Begitu juga sebaliknya, walaupun dipuji disanjung oleh manusia kalau dibenci Alloh apa artinya. Manusia tidak bisa menolong apapun kalau Alloh menghendaki sesuatu kepada kita.
#intropeksi_diri
Rabu, 26 Agustus 2015
Pojok Renungan
“Jika matahari sudah terbenam, aku gembira dengan datangnya malam, dan manusia telah tidur lelap. karena inilah saat hanya ada Allah dan aku.”
Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)
Allah Swt Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)
#intropeksi_diri
Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah shalat malam, karena sesungguhnya shalat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kamu, (shalat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (shalat malam adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)
Allah Swt Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64)
#intropeksi_diri
Senin, 24 Agustus 2015
Menerima Imbalan dalam berdakwah
Mencari pendakwah yang benar-benar berdakwah rasanya semakin sulit kita temui, semuanya sibuk dengan urusan materi.
Di jaman sekarang, dalam menyampaikan dakwah si ulama sering menerima Amplop, semakin si penceramah terkenal maka semakin mahallah kita membayarnya. Begitu juga saat mendo’akan orang meninggal atau mendo’akan orang mau naik haji, pasti ada amplopnya, bahkan kutbah jum’at pun ada amplopnya.
Padahal para sahabat dan para ulama pada jaman dahulu dalam menyampaikan dakwahnya tidak meminta bayaran. Bila dalam menyebarkan ILMU meminta upah, maka agama Islam yang mulia ini TIDAK akan pernah sampai pada kita.
Menyampaikan yang haq katanya perlu uang, untuk transportasi dan lain sebagainya. Apakah diperbolehkan? Jawabannya sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya di dalam Al Qur’an.
Alloh swt berfirman, ‘’Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam. (QS. AL AN’AM :90)
Alloh swt berfirman, Katakanlah (Muhammad ): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan agar) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. (QS. AL-FURQON :57)
Alloh swt berfirman, ‘’Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu adalah lebih baik, karena Dia adalah pemberi rezeki yang paling baik. (QS. AL MU’MINUUN :72)
Sebagai seorang mukmin, hendaknya pendorongnya dalam berdakwah itu adalah semata-mata menghendaki keridhaan Allah dan demi akhirat, tidak mencampuri suatu amal dengan kecenderungan dunia, misalnya karena menghendaki harta dunia, menghendaki kedudukan, mencari sanjungan dll.
Pendakwah adalah orang yang berjuang, orang yang berusaha untuk menegakkan dan meninggikan agama Allah. Mengajak manusia untuk taat beribadah, mengajak manusia untuk beramal sholeh, mengajak manusia untuk berbuat baik, tunduk dan patuh kepada Alloh. Itu adalah seruan yang paling baik di mata Alloh, maka seruan yang paling baik itu jangan dinodai hanya mengharapkan imbalan upah yang sangat murah, semua itu tidak ada apa-apanya dibanding apa yang akan diberikan oleh Alloh.
Rejeki itu datangnya dari Alloh, kalau kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh kita pasti akan mendapatkannya. Rosululloh saja mau bekerja dengan berdagang, kenapa kita tidak? Insya Alloh kalau kita Ikhlas dalam menjalankan ketaatan, Alloh akan memudahkan jalan kita. Aamiin. ''Wallohu’alam bishawab''
- Salam santun saya
Di jaman sekarang, dalam menyampaikan dakwah si ulama sering menerima Amplop, semakin si penceramah terkenal maka semakin mahallah kita membayarnya. Begitu juga saat mendo’akan orang meninggal atau mendo’akan orang mau naik haji, pasti ada amplopnya, bahkan kutbah jum’at pun ada amplopnya.
Padahal para sahabat dan para ulama pada jaman dahulu dalam menyampaikan dakwahnya tidak meminta bayaran. Bila dalam menyebarkan ILMU meminta upah, maka agama Islam yang mulia ini TIDAK akan pernah sampai pada kita.
Menyampaikan yang haq katanya perlu uang, untuk transportasi dan lain sebagainya. Apakah diperbolehkan? Jawabannya sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya di dalam Al Qur’an.
Alloh swt berfirman, ‘’Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam. (QS. AL AN’AM :90)
Alloh swt berfirman, Katakanlah (Muhammad ): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan agar) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. (QS. AL-FURQON :57)
Alloh swt berfirman, ‘’Atau engkau (Muhammad) meminta imbalan kepada mereka? Sedangkan imbalan dari Tuhanmu adalah lebih baik, karena Dia adalah pemberi rezeki yang paling baik. (QS. AL MU’MINUUN :72)
Sebagai seorang mukmin, hendaknya pendorongnya dalam berdakwah itu adalah semata-mata menghendaki keridhaan Allah dan demi akhirat, tidak mencampuri suatu amal dengan kecenderungan dunia, misalnya karena menghendaki harta dunia, menghendaki kedudukan, mencari sanjungan dll.
Pendakwah adalah orang yang berjuang, orang yang berusaha untuk menegakkan dan meninggikan agama Allah. Mengajak manusia untuk taat beribadah, mengajak manusia untuk beramal sholeh, mengajak manusia untuk berbuat baik, tunduk dan patuh kepada Alloh. Itu adalah seruan yang paling baik di mata Alloh, maka seruan yang paling baik itu jangan dinodai hanya mengharapkan imbalan upah yang sangat murah, semua itu tidak ada apa-apanya dibanding apa yang akan diberikan oleh Alloh.
Rejeki itu datangnya dari Alloh, kalau kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh kita pasti akan mendapatkannya. Rosululloh saja mau bekerja dengan berdagang, kenapa kita tidak? Insya Alloh kalau kita Ikhlas dalam menjalankan ketaatan, Alloh akan memudahkan jalan kita. Aamiin. ''Wallohu’alam bishawab''
- Salam santun saya
Senin, 27 Juli 2015
Sering mengeluh karena sakit yang diderita
''Saya sedang sakit, dan kadang saya menangisi keadaan saya ketika tertimpa penyakit. Apakah tangisan ini menunjukkan rasa tidak terima dan tidak ridha terhadap takdir Allah? Padahal perasaan sedih ini muncul begitu saja. Lalu apakah menceritakan keadaan saya tersebut kepada teman-teman saya juga termasuk sikap tidak ridha terhadap takdir?’’
ustad menjawab => -
‘’Anda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja dan jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika anaknya nabi Ibrahim meninggal :
“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)
Rosululloh saw bersabda, ''Janganlah salah seorang diantara kamu mengharap-harapkan kematian karena kesusahan yang menimpanya. jika memang harus berharap demikian hendaklah dia berdo'a :''Ya Alloh, hidupkanlah aku bilamana hidup itu adalah yang terbaik buatku namun matikanlah aku bilamana mati adalah pilihan terbaik buatku.'' ( HR .BUKHARI & MUSLIM Dari anas ra )
Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh. Pesan saya, tetap bersabarlah dan mengharap pahala dari Allah, semua itu ada semata-mata karena Alloh ingin menguji keimanan kita.
Allah swt berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az Zumar: 10)
Allah swt berfirman, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 156-158)
Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19).
Juga sabda beliau : “Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)
Untuk sahabatku semua yang sedang dirundung duka, aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa bagi hambaNya yang mau bersabar.
Aamiin ... aamiin ... Allohuma aamiin.
''Selamat pagi saudaraku, selamat beraktifitas, ya? Semoga kesehatan, kebaikan dan kemudahan selalu untuk kita semua dan juga untuk anda sekeluarga, aamiin. ‘’Wallahu A'lam bis-shawaab.’’
- Salam santun saya
ustad menjawab => -
‘’Anda boleh saja menangis, namun cukup dengan linangan air mata saja dan jangan bersuara. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika anaknya nabi Ibrahim meninggal :
“Air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Dengan kepergianmu ini wahai Ibrahim, kami sangat bersedih” (HR. Al Bukhari bab Al Jana’iz no 1241, Muslim bab Al Fadhail no.2315, Abu Daud bab Al Jana’iz no.3126, Ahmad 3/194)
Rosululloh saw bersabda, ''Janganlah salah seorang diantara kamu mengharap-harapkan kematian karena kesusahan yang menimpanya. jika memang harus berharap demikian hendaklah dia berdo'a :''Ya Alloh, hidupkanlah aku bilamana hidup itu adalah yang terbaik buatku namun matikanlah aku bilamana mati adalah pilihan terbaik buatku.'' ( HR .BUKHARI & MUSLIM Dari anas ra )
Anda pun boleh mengabarkan teman dan sahabat anda tentang keadaan anda, namun dengan memuji Allah, bersyukur kepada Allah, dengan menyebutkan bahwa anda telah memohon kesembuhan kepada Allah dan telah menjalani upaya untuk sembuh. Pesan saya, tetap bersabarlah dan mengharap pahala dari Allah, semua itu ada semata-mata karena Alloh ingin menguji keimanan kita.
Allah swt berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az Zumar: 10)
Allah swt berfirman, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun“. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 156-158)
Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “Seorang Muslim tertimpa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5318, Muslim bab Al Birr Was Shilah Wal Adab no.2573, At Tirmidzi bab Al Jana’iz no.966, Ahmad 3/19).
Juga sabda beliau : “Jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan” (HR. Al Bukhari bab Al Mardhi no.5321, Ahmad 2/237, Malik dalam Al Muwatha, 1752)
Untuk sahabatku semua yang sedang dirundung duka, aku memohon kepada Allah semoga anda diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi mengabulkan doa bagi hambaNya yang mau bersabar.
Aamiin ... aamiin ... Allohuma aamiin.
''Selamat pagi saudaraku, selamat beraktifitas, ya? Semoga kesehatan, kebaikan dan kemudahan selalu untuk kita semua dan juga untuk anda sekeluarga, aamiin. ‘’Wallahu A'lam bis-shawaab.’’
- Salam santun saya
Minggu, 26 Juli 2015
Siapa Dia?
Ketika malam minggu datang dia suka termenung seorang diri. Tangan kanan pegang hape sementara tangan kirinya nyolokin lubang hidung, asik dengan dunianya sendiri. Tatapan matanya menerawang jauh, hingga akhirnya tersesat di negeri impian.
‘’Siapa dia?’’
‘’Itulah si jomblo.’’
Setiap malam minggu datang dia hanya bisa berkhayal yang indah-indah. Ingin punya kekasih yang setia, ingin pergi jalan-jalan berdua bersama sang kekasih, atau duduk berdua di taman sambil menikmati indahnya malam.
‘’Oh, indahnya.’’ =D :P
Malam minggu bagi jomblo sepertiku nasibnya hampir sama dengan jomblo-jomblo lainnya. Jam 5 sore aku udah pergi mandi, habis mandi lalu dandan rapi banget. Tapi, setelah dandan jadi kebingungan sendiri, soalnya bingung mau pergi ke mana. Yang aku lakukan cuma duduk bengong sendirian di teras rumah, sambil merenungi nasib. Pengennya sih menikmati suasana malam meskipun cuma sendirian.
‘’Kira-kira enaknya ke mana, ya?’’
‘’ke monas? Takut kena macet!’’ =D :P
‘’ke Ragunan? Takut nggak boleh pulang. Jadi nggak enak, kan! Sodara datang tapi nggak mau nginep!’’
‘’ ke Ancol? Takut kelelep. Nggak lucu, kan! kalau aku tenggelam. Trus nggak ada yang mau nolongin.’’
‘’ke Bali? Takut pulangnya nggak punya ongkos. Jadi lucu, kan! pulang liburan bukannya senang malah jadi gembel.’’ =D :P
‘’Ke Way kambas? Takut nyasar. Jadi lucu, kan! Niatnya pengen asik pacaran malah nyasar sampai ujung kulon!’’ =D
Setiap malem minggu datang selalu begini, mau ngapa-ngapain serba nggak enak. Jongkok salah, telentang salah, miring salah, nungging salah, apalagi kalau di pakai tengkurep nafasku malah semakin sesak.
‘’Nasib-nasib. Kapan aku punya pacar?’’
**
‘’Hehe … ceritanya sedih, ya? Kita hibur yuk biar dia nggak sedih, atau kita nina bobo’in ajah biar dia cepet molor.’’ =D
Inget pepatah ya sob : ‘’Biar nggak tampan yang penting mapan. karena, cowok mapan bisa berubah jadi tampan di mata perempuan.’’
Jadi jomblo memang nggak enak, tapi nggak baik kalau terus diratapi. Jomblo itu asik ko’ kalau kita bisa jalanin dengan ikhlas. Nggak perlu ngeluh, nggak perlu merasa iri, nggak perlu sedih, atau bertanya-tanya di mana jodohmu.
Cukup rubah dirimu menjadi pribadi yang baik, sopan, rendah hati, dan taat beribadah. Insya Alloh, Alloh swt akan mendengar untaian do’amu, meski doamu itu terhalang oleh gunung dan lautan.
- Oleh : ‘’Satrio’’ si juragan kodhok
‘’Siapa dia?’’
‘’Itulah si jomblo.’’
Setiap malam minggu datang dia hanya bisa berkhayal yang indah-indah. Ingin punya kekasih yang setia, ingin pergi jalan-jalan berdua bersama sang kekasih, atau duduk berdua di taman sambil menikmati indahnya malam.
‘’Oh, indahnya.’’ =D :P
Malam minggu bagi jomblo sepertiku nasibnya hampir sama dengan jomblo-jomblo lainnya. Jam 5 sore aku udah pergi mandi, habis mandi lalu dandan rapi banget. Tapi, setelah dandan jadi kebingungan sendiri, soalnya bingung mau pergi ke mana. Yang aku lakukan cuma duduk bengong sendirian di teras rumah, sambil merenungi nasib. Pengennya sih menikmati suasana malam meskipun cuma sendirian.
‘’Kira-kira enaknya ke mana, ya?’’
‘’ke monas? Takut kena macet!’’ =D :P
‘’ke Ragunan? Takut nggak boleh pulang. Jadi nggak enak, kan! Sodara datang tapi nggak mau nginep!’’
‘’ ke Ancol? Takut kelelep. Nggak lucu, kan! kalau aku tenggelam. Trus nggak ada yang mau nolongin.’’
‘’ke Bali? Takut pulangnya nggak punya ongkos. Jadi lucu, kan! pulang liburan bukannya senang malah jadi gembel.’’ =D :P
‘’Ke Way kambas? Takut nyasar. Jadi lucu, kan! Niatnya pengen asik pacaran malah nyasar sampai ujung kulon!’’ =D
Setiap malem minggu datang selalu begini, mau ngapa-ngapain serba nggak enak. Jongkok salah, telentang salah, miring salah, nungging salah, apalagi kalau di pakai tengkurep nafasku malah semakin sesak.
‘’Nasib-nasib. Kapan aku punya pacar?’’
**
‘’Hehe … ceritanya sedih, ya? Kita hibur yuk biar dia nggak sedih, atau kita nina bobo’in ajah biar dia cepet molor.’’ =D
Inget pepatah ya sob : ‘’Biar nggak tampan yang penting mapan. karena, cowok mapan bisa berubah jadi tampan di mata perempuan.’’
Jadi jomblo memang nggak enak, tapi nggak baik kalau terus diratapi. Jomblo itu asik ko’ kalau kita bisa jalanin dengan ikhlas. Nggak perlu ngeluh, nggak perlu merasa iri, nggak perlu sedih, atau bertanya-tanya di mana jodohmu.
Cukup rubah dirimu menjadi pribadi yang baik, sopan, rendah hati, dan taat beribadah. Insya Alloh, Alloh swt akan mendengar untaian do’amu, meski doamu itu terhalang oleh gunung dan lautan.
- Oleh : ‘’Satrio’’ si juragan kodhok
Sabtu, 25 Juli 2015
Senjata Mustika warisan kakek buyutku
Matahari baru saja tenggelam di peraduan. Suasana lereng gunung gajah mungkur tampak begitu tenang, hanya suara binatang malam yang sesekali terdengar di kejauhan. Udara begitu dingin, serasa menusuk-nusuk tulang sumsumku, membuatku tak ingin lepas dari sarung kesayanganku.
‘’Kademen ya, Lee?’’ ujar Kakekku mengagetkan lamunanku.
‘’Iy ..iya …Kek. Dingin banget.’’ jawabku dari balik sarung.
Beberapa saat kemudian kakek datang lagi membawa sesuatu, ‘’Thole … tangi tangi … iki ngombe wedang jahe ben ora kademen.’’ ujar kakek sambil menyodorkan minuman hangat itu.
‘’Terima kasih, Kek.’’
Setelah minum wedang jahe buatan kakek badanku terasa hangat, rasanya pun enak sekali, mengingatkanku pada minuman jahe sasetan yang sering aku beli waktu di Jakarta. Tapi, wedang jahe buatan kakek rasanya lebih enak dan lebih terasa jahenya.
Srupuuuttt ….
‘’Aaach …’’
Begitulah, setiap sore kakek selalu membuatkan aku wedang jahe pengusir rasa dingin itu. Kemudian, kami berdua duduk bercengkerama, malam harinya kakek mengajariku membuat anyaman bambu. Esok paginya kakek mengajakku pergi ke ladang, memanen jagung, sayur-sayuran, juga ketela singkong untuk di jual di pasar.
Rasanya betah tinggal di sini, tak terasa sudah ada satu minggu aku mudik di sini di tempat kakekku. Suasananya begitu tenang, begitu damai, berbeda sekali dengan Ibukota yang selalu bising setiap harinya. Aku berfikir, saat aku tua nanti aku ingin tinggal di sini, agar aku bisa lebih menikmati hidup seperti kakekku.
Seminggu yang lalu, saat pertama kali menginjakkan kakiku di rumah ini aku sangat kegirangan. Bagaimana nggak kegirangan, dua hari aku kena macet di jalan raya, bising, kena panas, kena hujan, seluruh badanku rasanya pegal sekali, dan sangat membosankan.
''Huft ... Kenapa orang-orang nggak pernah kapok mudik, ya? Padahal keadaannya begini, serba melelahkan.''
Sampai di rumah kakek jam 8 malam, bisa dibayangkan bagaimana lelahnya perjalananku. Malam itu kakek gembira sekali menyambut kedatanganku, berulangkali beliau mengusap-usap rambutku.
‘’Tholee … ternyata kamu sudah besar.’’
‘’Iya, Kek.’’ jawabku malu-malu.
‘’Gimana kabar Bapak Ibumu? Rak yo sehat kabeh, to?’’ tanya kakek.
‘’Alhamdulillah … sehat , Kek.’’ jawabku.
‘’Puji syukur …. yo wes … itu kamarmu klo mau istirahat.’’ ujar kakek sambil nunjuk ke arah kamar yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri.
‘’Iya, Kek. Terima kasih nggeh.’’
Aku segera bergegas menuju kamar untuk beristirahat., badan ini rasanya lelah sekali. Tapi, saat mata ini terpejam tiba-tiba ada suara berdengung di telingaku.
''Ngiiing ... ngiiiieeng ...
‘’Huft … dasar nyamuk!! Ngganggu orang lagi tidur aja!!’’ gerutuku.
Dengan kesalnya itu nyamuk aku pukul mengunakan handuk kecilku.
Tebuuuk …. Tebuuuk …
Itu nyamuk bukannya kena aku pukul malah pinter banget ngelesnya kayak sopir bajay. Berulang kali aku ayun-ayunkankan handuk kecilku k earah nyamuk itu, tapi tak satupun mengenainya.
''Ngiiing ... ngiiiieeng ...
Bukannya takut, nyamuk itu malah berputar-putar di dekat telingaku, bunyinya seperti helikopter mau perang.
''Plaaakkk ....
Satu nyamuk mati kena tabokanku, yang satunya lagi lolos entah ke mana. 2 menit kemudian nyamuk yang lolos tadi datang lagi, kali ini dia membawa rombongan, kayaknya dia tadi marah trus ngadu ke saudara-saudaranya gara-gara aku tabok. Ada Budhenya, Pakdhenya,Bapaknya, Ibunya, kakeknya, neneknya, ponakannya, adiknya, kakaknya, pembantunya, semuanya diajaknya buat bantu nggebukin aku. =D :P
''Eiiittt ... klo berani jangan kroyokan! Ayo maju satu-satu!'' tantangku.
Buru-buru aku ambil sarung dari dalam tasku, kemudian pergi tidur. Aku tak perduli nyamuk-nyamuk itu mau menggigitku, sarung itu aku keredongin hingga menutup kepalaku. Dan benar saja, esok paginya dengkulku bentol-bentol kena gigitan nyamuk.
‘’Huft … sial bener!!’’ gerutuku kesal.
Padahal seluruh badanku udah ketutup semua, atas pakai sarung, bawah pakai celana panjang + kaos kaki. Salahnya aku pakai celana yang dengkulnya bolong, otomatis nyamuk-nyamuk kampret itu pada berpesta pora nyedotin darah di dengkulku.
‘’Nyari apa, lee?’’ ujar Kakek mengagetkan aku.
‘’Minyak gosok, Kek!’’ jawabku.
‘’Tuh di pojokan meja! Kamu kenapa?’’ tanya Kakek.
‘’Di gigit nyamuk, Kek. Dengkul bentol-bentol semua.’’ jawabku sambil ngoles-olesin minyak itu.
Kakek memandangku sebentar, kemudian pergi ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian Kakek keluar membawa kotak berukuran 1 meter x 50cm, terbuat dari kayu jati. Kelihatan sekali kalau kotak itu sudah berumur puluhan Tahun, terlihat dari warnanya yang sudah kehitam-hitaman karena di makan usia.
Aku diam saja tidak berani bertanya, hanya memandang kakek dari kejauhan. Mungkin itu kotak pusaka, atau mungkin pusaka warisan leluhur, dari kejauhan samar-samar aku membaca tulisan yang sedikit sulit untuk di baca. Kalau di eja tulisannya seperti ini, ‘’M U S T I K A’’.
‘’Mustika! Jangan-jangan kotak itu isinya pusaka sakti?’’ batinku bertanya-tanya dalam hati.
Aku jadi teringat tokoh dunia persilatan yang menjadi idolaku ‘’WIRO SABLENG’’, dia juga mempunyai senjata mustika kapak maut naga geni 212. Apa mungkin kakek juga mempunyai senjata ampuh semacam itu, kalau iya berarti kakekku dulu seorang pendekar, atau mungkin juga seorang prajurit dari keraton.
‘’Tholee … ke sini sebentar?!’’ panggil kakek.
‘’Iya, kek!’’ jawabku singkat.
Hatiku berdebar-debar dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa kakek tiba-tiba memanggilku? Apa mungkin kakek mau mewariskan senjata mustika itu? Tapi, untuk apa?.
‘’Waduh! Bisa berabe nih klo beneran!’’ batinku sedikit gelisah.
Aku merasa belum siap menerima hal-hal yang begituan, aku ini orang kota, orang yang tidak begitu saja mempercayai hal-hal mistis seperti itu. Lagian juga aku ini nggak bisa beladiri, apalagi berkelahi, boro-boro berantem dikejar-kejar bebek aja aku nangis kekejer.
‘’Thole, sini duduk dekat kakek?’’ ujar kakek sambil membersihkan kotak tua itu menggunakan kain lap.
‘’Iya, Kek.’’ Jawabku pelan dengan nafas sedikit tertahan.
‘’Sudah lama kakek menyimpannya. Sayang klo nggak di pakai, nanti malah rusak.’’ Ujar kakek.
‘’Ta tapi, Kek?!’’ jawabku sedikit gugup.
Aku semakin salah tingkah dibuatnya, mau menolak takut, apalagi membantah ucapan kakek. Mendadak sekujur tubuhku berkeringat, badanku gemetaran, nafasku pun semakin terasa berasa berat. Mataku tidak berkedip saat kakek mau membuka kotak hitam itu. Dan …
Krieeeettt ….
‘’Ini lho lee … kakekmu dulu dapet oleh-oleh dari Bapakmu. Tapi, Kakek nggak ngerti cara Makainya.’’ ujar kakek sambil mesam mesem.
‘’Huft ….’’ aku menghelela nafas panjang.
Pupus sudah rasa tegangku yang sudah aku tahan sejak dari tadi. Benda dalam bungkusan plastik itu membuatku tertawa terbahak-bahak. Masih terbungkus rapi dan masih kelihatan baru, merknya ‘’Raket Nyamuk Sinyoku’’.
''Hadieh ... capek deehh ... kirain apaan.'' ujarku dalam hati sambil senyam senyum
‘’Bisa di pakai nggak, lee?’’ tanya Kakek.
‘’Bisa … bisa … Kek!’’ jawabku dari dalam kamar.
Tanpa menunggu lama, nyamuk-nyamuk yang berada di kamarku aku serang habis-habisan.
Tak … tak .. tak …
Tak … tak … tak …
Nyamuk-nyamuk yang menggigitku tadi malam itu pada kojor, mati bergelimpangan kena strum raket nyamuk. Ada yang gosong, ada yang kejang-kejang, sampai ada juga yang ancur berantakan.
‘’Mati lu …!!’’ gerutuku karena sewot.
Mungkin karena kesal gara-gara kejadian semalam, aku tidak berhenti begitu saja, aku terus mencari di mana nyamuk itu bersembunyi. Di kolong tempat tidur, di kamar kakek, di ruang tamu, juga di dapur. Setelah ketemu apa yang aku cari, aku pun segera mengeluarkan jurus andalanku.
‘’Ciiiaaattt ….!!’’
Tak … tak .. tak …
Tak … tak … tak …
Saat aku memeriksa dapur ada tawon terbang berputar-putar di atas kepalaku. Tanpa menunggu lama aku ayunkan raket nyamuk itu ke arah tawon itu. Tapi, tawon itu ternyata gesit sekali gerakannya, sampai nafasku dibuatnya ngos-ngosan .
‘’Awas lu …!!’’
Saat aku amat-amati ternyata tawon itu bersarang di dekat talang air dapur. Kurang lebih ada 6 ekor tawon nangkring di sarang itu. Tanpa ba-bi-bu aku ayunkan raket nyamuk itu tepat di sarang tawon itu. Tapi, bukannya mati, tawon itu malah pada nembel di kawat raket nyamuk itu.
‘’Lah! Ko’ nggak mati?!’’ ujarku dalam hati sambil menggoyang-nggoyangkan raket itu.
Aku periksa lampu yang berada di gagang raket nyamuk itu mati dan tidak mau menyala setiap kali aku nyalain saklarnya. Ternyata baterenya habis, pantas saja tawon itu nggak mau mati. Dan, inilah akibatnya.
Nggggg … nggggg …
‘’Tolooong ….!! Kakeeekkk … tolooong …!!’’ jeritku karena panik ketakutan.
Tawon-tawon itu berterbangan ke arahku, nemplok tepat di kepalaku kemudian ngantup jidatku berulang kali.
‘’Waaa ….!! Tolooong … kek … tolooong …!!’’ aku menjerit kemudian berlari ke halaman rumah.
Kakek datang menolongku, kemudian mengambil sapu lidi didapur lalu menghalau tawon-tawon itu supaya pergi.
‘’Kenapa bisa di antup tawon begini to, lee? Kamu ganggu, ya?’’ tanya kakek sambil mengoles minyak gosok tepat di jidatku yang kena antup.
‘’Iya, Kek.’’ jawabku sambil meringis-ringis kesakitan.
‘’Itu tawon kemit. Klo nggak diganggu tawon itu nggak mau ngantup.’’ ujar kakek.
Aku diam saja dan hanya bisa mengangguk pasrah. Akibat kejadian itu semalaman aku tidak bisa tidur, kepalaku jadi benjol benjol, ada 5 benjolan sebesar biji bakso yang nangkring tepat di jidatku.
‘’Ah, mudik kali ini sungguh mengesankan.’’
- Oleh : Satrio ‘si juragan kodhok’
‘’Kademen ya, Lee?’’ ujar Kakekku mengagetkan lamunanku.
‘’Iy ..iya …Kek. Dingin banget.’’ jawabku dari balik sarung.
Beberapa saat kemudian kakek datang lagi membawa sesuatu, ‘’Thole … tangi tangi … iki ngombe wedang jahe ben ora kademen.’’ ujar kakek sambil menyodorkan minuman hangat itu.
‘’Terima kasih, Kek.’’
Setelah minum wedang jahe buatan kakek badanku terasa hangat, rasanya pun enak sekali, mengingatkanku pada minuman jahe sasetan yang sering aku beli waktu di Jakarta. Tapi, wedang jahe buatan kakek rasanya lebih enak dan lebih terasa jahenya.
Srupuuuttt ….
‘’Aaach …’’
Begitulah, setiap sore kakek selalu membuatkan aku wedang jahe pengusir rasa dingin itu. Kemudian, kami berdua duduk bercengkerama, malam harinya kakek mengajariku membuat anyaman bambu. Esok paginya kakek mengajakku pergi ke ladang, memanen jagung, sayur-sayuran, juga ketela singkong untuk di jual di pasar.
Rasanya betah tinggal di sini, tak terasa sudah ada satu minggu aku mudik di sini di tempat kakekku. Suasananya begitu tenang, begitu damai, berbeda sekali dengan Ibukota yang selalu bising setiap harinya. Aku berfikir, saat aku tua nanti aku ingin tinggal di sini, agar aku bisa lebih menikmati hidup seperti kakekku.
Seminggu yang lalu, saat pertama kali menginjakkan kakiku di rumah ini aku sangat kegirangan. Bagaimana nggak kegirangan, dua hari aku kena macet di jalan raya, bising, kena panas, kena hujan, seluruh badanku rasanya pegal sekali, dan sangat membosankan.
''Huft ... Kenapa orang-orang nggak pernah kapok mudik, ya? Padahal keadaannya begini, serba melelahkan.''
Sampai di rumah kakek jam 8 malam, bisa dibayangkan bagaimana lelahnya perjalananku. Malam itu kakek gembira sekali menyambut kedatanganku, berulangkali beliau mengusap-usap rambutku.
‘’Tholee … ternyata kamu sudah besar.’’
‘’Iya, Kek.’’ jawabku malu-malu.
‘’Gimana kabar Bapak Ibumu? Rak yo sehat kabeh, to?’’ tanya kakek.
‘’Alhamdulillah … sehat , Kek.’’ jawabku.
‘’Puji syukur …. yo wes … itu kamarmu klo mau istirahat.’’ ujar kakek sambil nunjuk ke arah kamar yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri.
‘’Iya, Kek. Terima kasih nggeh.’’
Aku segera bergegas menuju kamar untuk beristirahat., badan ini rasanya lelah sekali. Tapi, saat mata ini terpejam tiba-tiba ada suara berdengung di telingaku.
''Ngiiing ... ngiiiieeng ...
‘’Huft … dasar nyamuk!! Ngganggu orang lagi tidur aja!!’’ gerutuku.
Dengan kesalnya itu nyamuk aku pukul mengunakan handuk kecilku.
Tebuuuk …. Tebuuuk …
Itu nyamuk bukannya kena aku pukul malah pinter banget ngelesnya kayak sopir bajay. Berulang kali aku ayun-ayunkankan handuk kecilku k earah nyamuk itu, tapi tak satupun mengenainya.
''Ngiiing ... ngiiiieeng ...
Bukannya takut, nyamuk itu malah berputar-putar di dekat telingaku, bunyinya seperti helikopter mau perang.
''Plaaakkk ....
Satu nyamuk mati kena tabokanku, yang satunya lagi lolos entah ke mana. 2 menit kemudian nyamuk yang lolos tadi datang lagi, kali ini dia membawa rombongan, kayaknya dia tadi marah trus ngadu ke saudara-saudaranya gara-gara aku tabok. Ada Budhenya, Pakdhenya,Bapaknya, Ibunya, kakeknya, neneknya, ponakannya, adiknya, kakaknya, pembantunya, semuanya diajaknya buat bantu nggebukin aku. =D :P
''Eiiittt ... klo berani jangan kroyokan! Ayo maju satu-satu!'' tantangku.
Buru-buru aku ambil sarung dari dalam tasku, kemudian pergi tidur. Aku tak perduli nyamuk-nyamuk itu mau menggigitku, sarung itu aku keredongin hingga menutup kepalaku. Dan benar saja, esok paginya dengkulku bentol-bentol kena gigitan nyamuk.
‘’Huft … sial bener!!’’ gerutuku kesal.
Padahal seluruh badanku udah ketutup semua, atas pakai sarung, bawah pakai celana panjang + kaos kaki. Salahnya aku pakai celana yang dengkulnya bolong, otomatis nyamuk-nyamuk kampret itu pada berpesta pora nyedotin darah di dengkulku.
‘’Nyari apa, lee?’’ ujar Kakek mengagetkan aku.
‘’Minyak gosok, Kek!’’ jawabku.
‘’Tuh di pojokan meja! Kamu kenapa?’’ tanya Kakek.
‘’Di gigit nyamuk, Kek. Dengkul bentol-bentol semua.’’ jawabku sambil ngoles-olesin minyak itu.
Kakek memandangku sebentar, kemudian pergi ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian Kakek keluar membawa kotak berukuran 1 meter x 50cm, terbuat dari kayu jati. Kelihatan sekali kalau kotak itu sudah berumur puluhan Tahun, terlihat dari warnanya yang sudah kehitam-hitaman karena di makan usia.
Aku diam saja tidak berani bertanya, hanya memandang kakek dari kejauhan. Mungkin itu kotak pusaka, atau mungkin pusaka warisan leluhur, dari kejauhan samar-samar aku membaca tulisan yang sedikit sulit untuk di baca. Kalau di eja tulisannya seperti ini, ‘’M U S T I K A’’.
‘’Mustika! Jangan-jangan kotak itu isinya pusaka sakti?’’ batinku bertanya-tanya dalam hati.
Aku jadi teringat tokoh dunia persilatan yang menjadi idolaku ‘’WIRO SABLENG’’, dia juga mempunyai senjata mustika kapak maut naga geni 212. Apa mungkin kakek juga mempunyai senjata ampuh semacam itu, kalau iya berarti kakekku dulu seorang pendekar, atau mungkin juga seorang prajurit dari keraton.
‘’Tholee … ke sini sebentar?!’’ panggil kakek.
‘’Iya, kek!’’ jawabku singkat.
Hatiku berdebar-debar dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa kakek tiba-tiba memanggilku? Apa mungkin kakek mau mewariskan senjata mustika itu? Tapi, untuk apa?.
‘’Waduh! Bisa berabe nih klo beneran!’’ batinku sedikit gelisah.
Aku merasa belum siap menerima hal-hal yang begituan, aku ini orang kota, orang yang tidak begitu saja mempercayai hal-hal mistis seperti itu. Lagian juga aku ini nggak bisa beladiri, apalagi berkelahi, boro-boro berantem dikejar-kejar bebek aja aku nangis kekejer.
‘’Thole, sini duduk dekat kakek?’’ ujar kakek sambil membersihkan kotak tua itu menggunakan kain lap.
‘’Iya, Kek.’’ Jawabku pelan dengan nafas sedikit tertahan.
‘’Sudah lama kakek menyimpannya. Sayang klo nggak di pakai, nanti malah rusak.’’ Ujar kakek.
‘’Ta tapi, Kek?!’’ jawabku sedikit gugup.
Aku semakin salah tingkah dibuatnya, mau menolak takut, apalagi membantah ucapan kakek. Mendadak sekujur tubuhku berkeringat, badanku gemetaran, nafasku pun semakin terasa berasa berat. Mataku tidak berkedip saat kakek mau membuka kotak hitam itu. Dan …
Krieeeettt ….
‘’Ini lho lee … kakekmu dulu dapet oleh-oleh dari Bapakmu. Tapi, Kakek nggak ngerti cara Makainya.’’ ujar kakek sambil mesam mesem.
‘’Huft ….’’ aku menghelela nafas panjang.
Pupus sudah rasa tegangku yang sudah aku tahan sejak dari tadi. Benda dalam bungkusan plastik itu membuatku tertawa terbahak-bahak. Masih terbungkus rapi dan masih kelihatan baru, merknya ‘’Raket Nyamuk Sinyoku’’.
''Hadieh ... capek deehh ... kirain apaan.'' ujarku dalam hati sambil senyam senyum
‘’Bisa di pakai nggak, lee?’’ tanya Kakek.
‘’Bisa … bisa … Kek!’’ jawabku dari dalam kamar.
Tanpa menunggu lama, nyamuk-nyamuk yang berada di kamarku aku serang habis-habisan.
Tak … tak .. tak …
Tak … tak … tak …
Nyamuk-nyamuk yang menggigitku tadi malam itu pada kojor, mati bergelimpangan kena strum raket nyamuk. Ada yang gosong, ada yang kejang-kejang, sampai ada juga yang ancur berantakan.
‘’Mati lu …!!’’ gerutuku karena sewot.
Mungkin karena kesal gara-gara kejadian semalam, aku tidak berhenti begitu saja, aku terus mencari di mana nyamuk itu bersembunyi. Di kolong tempat tidur, di kamar kakek, di ruang tamu, juga di dapur. Setelah ketemu apa yang aku cari, aku pun segera mengeluarkan jurus andalanku.
‘’Ciiiaaattt ….!!’’
Tak … tak .. tak …
Tak … tak … tak …
Saat aku memeriksa dapur ada tawon terbang berputar-putar di atas kepalaku. Tanpa menunggu lama aku ayunkan raket nyamuk itu ke arah tawon itu. Tapi, tawon itu ternyata gesit sekali gerakannya, sampai nafasku dibuatnya ngos-ngosan .
‘’Awas lu …!!’’
Saat aku amat-amati ternyata tawon itu bersarang di dekat talang air dapur. Kurang lebih ada 6 ekor tawon nangkring di sarang itu. Tanpa ba-bi-bu aku ayunkan raket nyamuk itu tepat di sarang tawon itu. Tapi, bukannya mati, tawon itu malah pada nembel di kawat raket nyamuk itu.
‘’Lah! Ko’ nggak mati?!’’ ujarku dalam hati sambil menggoyang-nggoyangkan raket itu.
Aku periksa lampu yang berada di gagang raket nyamuk itu mati dan tidak mau menyala setiap kali aku nyalain saklarnya. Ternyata baterenya habis, pantas saja tawon itu nggak mau mati. Dan, inilah akibatnya.
Nggggg … nggggg …
‘’Tolooong ….!! Kakeeekkk … tolooong …!!’’ jeritku karena panik ketakutan.
Tawon-tawon itu berterbangan ke arahku, nemplok tepat di kepalaku kemudian ngantup jidatku berulang kali.
‘’Waaa ….!! Tolooong … kek … tolooong …!!’’ aku menjerit kemudian berlari ke halaman rumah.
Kakek datang menolongku, kemudian mengambil sapu lidi didapur lalu menghalau tawon-tawon itu supaya pergi.
‘’Kenapa bisa di antup tawon begini to, lee? Kamu ganggu, ya?’’ tanya kakek sambil mengoles minyak gosok tepat di jidatku yang kena antup.
‘’Iya, Kek.’’ jawabku sambil meringis-ringis kesakitan.
‘’Itu tawon kemit. Klo nggak diganggu tawon itu nggak mau ngantup.’’ ujar kakek.
Aku diam saja dan hanya bisa mengangguk pasrah. Akibat kejadian itu semalaman aku tidak bisa tidur, kepalaku jadi benjol benjol, ada 5 benjolan sebesar biji bakso yang nangkring tepat di jidatku.
‘’Ah, mudik kali ini sungguh mengesankan.’’
- Oleh : Satrio ‘si juragan kodhok’
Langganan:
Postingan (Atom)






